Minggu, 03 Juni 2012

SI, Organisasi Pelopor Pan-Islamisme di Indonesia


 
 Sarekat islam merupakan salah satu organisasi pergerakan nasional yang sudah terlihat dari namanya menganut paham pan-islamisme. Sebuah paham yang diperkenalan oleh Jamaluddin Al-Afghani yang intinya bahwa umat islam harus berstu padu saling membantu. Oleh karena itu tujuan awal pembentukannya adalah menyatukan penduduk pribumi yang beragama islam.
Organisasi ini didrikan pada tahun 1911 oleh Haji Samanhudi dengan nama Sarikat Dagang Islam (SDI) dengan menghimpun para pengusaha - pengusaha batik. Tujuan awalnya adalah untuk menghadapi monopoli bahan baku oleh pedagang – pedagang cina yang mebuat rugi mereka. Jadi tujuan pertamanya adalah untuk tujuan dagang dengan menyatukan para pedagang islam melawan pedagang – pedagang cina ini. Baru pada tahun berikutnya SDI diubah namanya mejadi Sarekat Islam (SI). Tujuan perubahan nama ini adalah untuk memperluas keanggotaan SI, tidak hanya dari kalangan pedagang tetapi juga lapisan masyarakat bawah. Pada saat terbentuknya SI ini ketuanya dijabat oleh Haji Oemar Said Cokroaminoto, sementara Smanhudi sebagai ketua kehormatan.
Terbentuknya SI juga mengubah tujuan SI itu sendiri dari hanya bertujuan dagang menjadi lebih luas. Bila dilihat dari anggaran dasarnya tujuan SI adaempat hal, yaitu mengembangkan jiwa dagang, memberikan bantuan kepada anggotayang menderita kesulitan, memajukan pengajaran dan semua yang mempercepat naiknya derajat bumi putera, dan menentang pendapat keliru tentang agama islam. Hal ini membuat tumbuhnya berpuluh-puluh cabang SI di Indonesia. SI pun menjadi organisasi massa pertama di Indonesia yang terasa pengaruhnya pada tahun 1917 hingga 1920.
Pertumbuahan SI yang cepat ini menimbulkan munculnya penyimpangan karena sebagian besar pengikutnya belum mengerti tujuan dan kegiatan SI. Hal inimenimbulkan beberapa aksi masa yang mengatasnamakan SI. Muncul Agerakan anti cina yang dianggap merugikan ekonomi pribumi seperti kasus pembentukan SDI di Surakarta, Bangil, Tuban Rembang dan Kudus. Lali ada gerakan anti judi dan pelacuran di Batavia atau Jakarta. Hal ini direspon oleh Gubernur Jenderal Idenburg, dari Pemerintahan Kolonial Belanda dengan mengirim salah satu penasihatnya ke SI. Hasilnya adalah SI tidak diperbolehkan memiliki pengurus besar, hanya boleh berdiri secara lokal untuk menghindari aksi masa secara nasional.
Berjasa
SI, melalui surat kabarnya Oetosan Hindia berjasa dalam membela kaum pribumi dari fitnah yang ditulis olh surat kabar Niews Van Dag pada 1915 yang menuliskan bahwa “Orang Jawa (Pribumi) sangat pimitif dan sifatnya seperti anak – anak nakal tak seimbang, malas, tidak dapat dipercaya, sehingga tidak dapat mengatur diri sendiri.” Hal ini diprotes oleh SI melalui Oetosan Hindia agar pengarangnya ditindak hukum.
Infiltrasi
Dalam perjalanannya SI sempat diinfiltrasi oleh paham marxisme-komunisme. Salah satu peloponya adalah Semaun dan Darsono dari SI cabang semarang. Akhirnya setelah terjadi perdebatan sengit antara pihak H.A Agus Salim-Abdul Muis dengan pihak Semaun-Darsono muncul kebijakan “disiplin partai” yang melarang keanggotaan ganda anggota SI. Mereka, golongan kiri yang terdepak dari SI kemudian menamakn dirinya Sarekat Rakyat(SR). Untuk lebih jelasnya dapa diihat di sejarah PKI.
Akhirnya karena aktivitas SI yang lebih mengutamakan politik tidak disetujui oleh sebagian anggotanya, maka SI memutuskan bekerja sama dngan pemerintah kolonial belanda dan beganti nama menjadi Partai Sarekat Islam. Tujuannya agar SI lebih okus ke masalah – masalah agama. Baru setelah sumpah pemuda, sehubungan dengan meluasnya semngat Persatuan Indonesia nama tersebut diubah menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) pada tahun 1930 yang dikeuai oleh Haji Agus Salim.
sumber :
Mustopo, Mahib dkk. 2007. Sejarah SMA Kelas XI Program IPA 2. Jakarta : Yudhistira

Tidak ada komentar:

Posting Komentar