Sarekat
islam merupakan salah satu organisasi pergerakan nasional yang sudah
terlihat dari namanya menganut paham pan-islamisme. Sebuah paham yang
diperkenalan oleh Jamaluddin Al-Afghani yang intinya bahwa umat islam
harus berstu padu saling membantu. Oleh karena itu tujuan awal
pembentukannya adalah menyatukan penduduk pribumi yang beragama islam.
Organisasi ini didrikan pada tahun 1911 oleh Haji Samanhudi dengan nama Sarikat Dagang Islam
(SDI) dengan menghimpun para pengusaha - pengusaha batik. Tujuan
awalnya adalah untuk menghadapi monopoli bahan baku oleh pedagang –
pedagang cina yang mebuat rugi mereka. Jadi tujuan pertamanya adalah
untuk tujuan dagang dengan menyatukan para pedagang islam melawan
pedagang – pedagang cina ini. Baru pada tahun berikutnya SDI diubah
namanya mejadi Sarekat Islam (SI). Tujuan perubahan nama ini
adalah untuk memperluas keanggotaan SI, tidak hanya dari kalangan
pedagang tetapi juga lapisan masyarakat bawah. Pada saat terbentuknya SI
ini ketuanya dijabat oleh Haji Oemar Said Cokroaminoto, sementara
Smanhudi sebagai ketua kehormatan.
Terbentuknya
SI juga mengubah tujuan SI itu sendiri dari hanya bertujuan dagang
menjadi lebih luas. Bila dilihat dari anggaran dasarnya tujuan SI
adaempat hal, yaitu mengembangkan jiwa dagang, memberikan bantuan kepada
anggotayang menderita kesulitan, memajukan pengajaran dan semua yang
mempercepat naiknya derajat bumi putera, dan menentang pendapat keliru
tentang agama islam. Hal ini membuat tumbuhnya berpuluh-puluh cabang SI
di Indonesia. SI pun menjadi organisasi massa pertama di Indonesia yang terasa pengaruhnya pada tahun 1917 hingga 1920.
Pertumbuahan
SI yang cepat ini menimbulkan munculnya penyimpangan karena sebagian
besar pengikutnya belum mengerti tujuan dan kegiatan SI. Hal
inimenimbulkan beberapa aksi masa yang mengatasnamakan SI. Muncul
Agerakan anti cina yang dianggap merugikan ekonomi pribumi seperti kasus
pembentukan SDI di Surakarta, Bangil, Tuban Rembang dan Kudus. Lali ada
gerakan anti judi dan pelacuran di Batavia atau Jakarta. Hal ini
direspon oleh Gubernur Jenderal Idenburg, dari Pemerintahan Kolonial
Belanda dengan mengirim salah satu penasihatnya ke SI. Hasilnya adalah
SI tidak diperbolehkan memiliki pengurus besar, hanya boleh berdiri
secara lokal untuk menghindari aksi masa secara nasional.
Berjasa
SI, melalui surat kabarnya Oetosan Hindia berjasa dalam membela kaum pribumi dari fitnah yang ditulis olh surat kabar Niews Van Dag pada
1915 yang menuliskan bahwa “Orang Jawa (Pribumi) sangat pimitif dan
sifatnya seperti anak – anak nakal tak seimbang, malas, tidak dapat
dipercaya, sehingga tidak dapat mengatur diri sendiri.” Hal ini diprotes
oleh SI melalui Oetosan Hindia agar pengarangnya ditindak hukum.
Infiltrasi
Dalam
perjalanannya SI sempat diinfiltrasi oleh paham marxisme-komunisme.
Salah satu peloponya adalah Semaun dan Darsono dari SI cabang semarang.
Akhirnya setelah terjadi perdebatan sengit antara pihak H.A Agus
Salim-Abdul Muis dengan pihak Semaun-Darsono muncul kebijakan “disiplin
partai” yang melarang keanggotaan ganda anggota SI. Mereka, golongan
kiri yang terdepak dari SI kemudian menamakn dirinya Sarekat Rakyat(SR). Untuk lebih jelasnya dapa diihat di sejarah PKI.
Akhirnya
karena aktivitas SI yang lebih mengutamakan politik tidak disetujui
oleh sebagian anggotanya, maka SI memutuskan bekerja sama dngan
pemerintah kolonial belanda dan beganti nama menjadi Partai Sarekat Islam.
Tujuannya agar SI lebih okus ke masalah – masalah agama. Baru setelah
sumpah pemuda, sehubungan dengan meluasnya semngat Persatuan Indonesia
nama tersebut diubah menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) pada tahun 1930 yang dikeuai oleh Haji Agus Salim. sumber :
Mustopo, Mahib dkk. 2007. Sejarah SMA Kelas XI Program IPA 2. Jakarta : Yudhistira

Tidak ada komentar:
Posting Komentar