Resensi Buku Perpustakaan MAN Insan Cendekia Serpong
Judul : Pompeii
Pengarang : Robert Harris
Tahun : Cetakan ke-1, tahun 2009
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Dimensi : 392 jlm, 23 cm
ISBN : 978-979-22-4944-6
Pompeii
sebuah kota mati yang terkenal hancur akibat leusan gunung Vesuvius. Kota ini
terkenal karena patung – patung manusia yang beku seperti berhenti secara
tiba-tiba sampai detail postur tubuhnya. Novel ini menceritakan tentang
terjadinya letusan Gunung Vesuvius yang menghancurkan sebuah kota besar di
kekasisaran Romawi dan kejadian – kejadian janggal sebelum letusan. Sebuah
Novel yang merupakan hasil riset mendalam dari berbagai sumber. Setidaknya,
penulis telah meriset dari 2000 buku.
Robert
Harris sendiri sudah berpengalaman dalam mebuat novel dengan latar belakang
sejarah Zaman Romawi. Novel sebelumnya Imperium Berhasil menyabet No.
1 Bestselling Author yang juga sama – sama berlatarbelakang kehidupan
Romawi kuno. Namun, bedanya Imperium adalah pada ma sa Republik sementara
Pompeii pada masa kekaisaran. Namun keduanya merupakan hasil riset mendalam
Robert Harris. Gramedia sebagai penerbit memang sudah lama mencetak novel –
novel karya Robert Harris termasuk Imperium dan The Ghost.
Kisah
diawali oleh seorang insinyur Aqua Augusta, saluran air terpanjang di
dunia saat ituyang mengaliri sembilan kota termasuk Pompeii dan Misenium tempat
kantor Attilus, nama insyur tersebut. Ia ditugaskan menangani berkurangnya
aliran air Aqua Augusta yang berkurang. Ia ditugaskan
menggantikan Exomnius, Aquarius atau insinyur saluran air sebelimnya yang
hilang entah kemana. Ia menemukan kejanggalan-kejanggalan pada Aqua Augusta
yang membawanya ke Pompeii, sebuah kota besar yang mewah dengan berbagai
kebejatan seperti pelacuran dan homoseksual. Di perjalanan penyelidikannya ia
juga bertemu dengan Ampliatus, seorang jutawan Pompeii bekas budak dan juga
anaknya, Corelia yang memikat hati Attilus dan memngingatkannya pada istrinya
yang sudah meninggal. Ia juga banyak dibantu oleh Laksamana Angkatan Laut
Romawi yang bermarkas di Misenium, yaitu Gaius Plinius yang penuh akan rasa
ingin tahu akan fenomena alam. Dan juga anak buahnya yang setia. Kecuali sang
mandor, Corax yang sepertinya sangat membenci sang Aquarius baru. Attilus
sendiri tidak tahu apa penyebabnya. Tetapi penyelidikannnya membawanya menuju
selak beluk kebusukan kota Pomeii dan juga tanda – tanda alam yang
memperingatkan akan bencana besar yang akan menghancurkan Ponpeii.
Novel
ini berhasil membangun kota – kota di teluk Neapolis khususnya Pompeii itu
sendiri. Dengan kekuatan alur yang tidak mudah ditebak dan mengejutkan
pantaslah novel ini menyabet No. 1 Internasional Bestseller. Namun ada
bagian yang tidak diceritakan sehingga membuat bingung. Bagian itu adalah kapal
Attilus yang membawanya ke Pompeii dari Misenium kembali balik ke Misenium.
Namun hal tersebut terobati dengan latar belakang kota Pompeii dan kehidupan
Romawai kuno yang hidup kembali karena riset yang mendalam oleh Robert Harris.
Beberapa
bagian dalam Novel ini tidak baik dibaca anak – anak dibawah umur. Sehingga
tidak cocok untuk anak - anak. Akhirnya tetap saja Novel ini baik dibaca bagi
mereka remaja dan orang dewasa yang tertarik akan sejarah hancurnya sebuah kota
besar lambang ketamakan, keserakahan manusia
pada saat itu yang sekarang tinggal puing-puing kota mati beserta
penduduknya yang beku seperti berhenti secara tiba-tiba.
TomCat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar